..:: Selamat Datang di iloworld.blogspot.com ::..
Tampilkan postingan dengan label Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 September 2007

Sistem Keuangan Negara Online



Saya baru membaca berita hari ini. Topik yang menarik adalah sistem keuangan negara akan segera dibuat online mulai tanggal 1 Oktober 2007. Pernyataan ini disampaikan oleh Wapres Jusuf Kalla. Beliau menyatakan bahwa seluruh pemasukan dan pengeluaran keuangan negara akan masuk ke dalam satu rekening. Karena sudah online, diharapkan sistem seperti ini akan transparan dan terbuka.

Dengan sistem online, Pak Wapres berharap bahwa posisi perbendaharaan negara pada masing-masing propinsi dapat diketahui setiap sore hari. Tujuan pemakaian sistem ini adalah untuk efisiensi manajemen keuangan negara. Jadi, saldo negara keluar masuk dapat diketahui.

Selama ini, saya tidak tahu sistem keuangan negara seperti apa. Sistem keuangan negara sepertinya tidak jelas bahkan “tertutup” untuk publik. Saat melakukan pencarian di Google, saya menemukan Undang-Undang Tentang Keuangan Negara tahun 2003. Selengkapnya dapat anda baca di SINI. Harapan saya adalah agar masyarakat luas bisa mengetahui aliran dana (cash flow) kas negara. Sekalian juga, kita menjadi tahu sebenarnya berapa jumlah kas negara kita dengan pasti. Itu berarti masyarakat akan menjadi paham kondisi kas negara sehingga pemerintah dapat lebih bijak dalam mengelola kas negara tersebut.

SAP All-In-One Solusi IT untuk Industri Pendidikan



Kebutuhan akan suatu IT sistem di berbagai industri dewasa ini makin dirasakan manfaatnya. Bila penggunaan IT di sektor retail, banking, oil and gas, dan lain-lain sudah merupakan hal yang lumrah maka kebutuhan IT sistem di sektor pendidikan mulai dirasa penting bagi pelaku di industri pendidikan.

Meskipun saat ini banyak universitas-universitas di Indonesia yang sudah menggunakan sistem IT dalam mengelola organisasinya, namun tak bisa dipungkiri jumlah universitas yang dalam tata kelolanya bersifat tradisional masih lebih banyak lagi. Selain itu sistem yang digunakan biasanya masih dikembangkan secara internal oleh universitas.

Di negara-negara yang sistem pendidikannya sudah maju, kebutuhan berbagai institusi pendidikan terhadap sistem IT sudah dirasakan manfaatnya. Hal itu membuat cukup banyak vendor-vendor IT yang memproduksi software yang dapat mendukung operasionalisasi institusi-institusi pendidikan. Salah satu vendor yang cukup concern terhadap pengembangan software seperti ini adalah ESX Inc.

Perusahaan yang di komandoi oleh presiden Les Schlain ini memiliki solusi yang dinamakan xCatalyst Education Management Software. Untuk pengelolaan data di universitas, ESX Inc. mempunyai sistem yang dinamakan FacultyInformation System yang merupakan web-based utility yang dapat mengotomatisasi dan menyederhanakan proses updating dan reporting faculty information.

Dalam situs resminya, ESX Inc. menjelaskan bahwa software ini dirancang khusus sebagai solusi yang menangani seluruh aspek dari educational organization. Mulai dari faculty reporting systems sampai course catalogs. Kelebihan sistem ini adalah mampu mengkordinasikan semua aspek yang terdapat di organisasi pendidikan menjadi sebuah fondasi sentral.

Sistem ini selain bermanfaat bagi pihak pihak institusi atau universitas juga mempermudah dan mendukung kegiatan mahasiswa. Karena anggotanya dapat me-log in website yang aman untuk melakukan berbagai aktivitas pendidikan dan meng-update data personal. Jadi sistem ini mirip dengan e-HR yang sering digunakan di perusahaan-perusahaan.

Seperti halnya perusahaan-perusahaan umum, organisasi dan institusi pendidikan pada dasarnya juga membutuhkan penanganan organisasi yang tertata rapi. Contohnya adalah penanganan terhadap hal-hal seperti administrative, reporting requirements dan traffic reports yang dapat saling terintegrasi ke dalam sebuah sistem koordinasi. Pengolahan database mahasiswa juga tidak bisa dilakukan secara manual lagi. Oleh karena itulah sistem IT mutlak dibutuhkan institusi pendidikan yang ingin berjalan kearah modernisasi.

Di Indonesia sendiri SAP sebagai salah satu vendor IT terkemuka mulai menyadari kebutuhan institusi dan organisasi pendidikan yang saat ini mulai kearah sana. Oleh karena itu bekerjasama dengan partner Perdana, mereka membuat SAP All-in-One yang khusus diperuntukkan bagi dunia pendidikan. SAP All-in-One sendiri merupakan paket solusi industri spesifik dengan konten, sarana dan metodelogi yang siap pakai dan memungkinkan implementasi berbiaya efektif bagi organisasi skala menengah atau Small Medium Enterprise. Jadi, SAP All-in-One berbeda dengan SAP Solution untuk perusahaan skala multi industri yang di dalamnya terdapat paket untuk mengelola berbagai jenis industri.

"Ini sebenarnya suatu konsep dimana kita membangun solusi buat perusahaan skala menengah yang mengakomodasi ciri-ciri seperti ini. Akhirnya kita mengeluarkan satu konsep yang namanya all-inone. Sesuai dengan namanya, all-in-one merupakan gabungan solusi yang didesain khusus untuk industri tertentu", ujar Singgih Wandojo, Marketing Director PT. SAP Indonesia. Kebutuhan akan sebuah sistem IT yang mampu mengelola organisasi juga disadari oleh Universitas Islam Indonesia (UII), salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Yogyakarta. Rektor UII Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, Mec, melihat kebutuhan sistem yang terintegrasi bagi universitas yang memiliki 17.000 mahasiswa lebih ini tak bisa ditawar lagi.

"Dengan sistem yang terintegrasi, UII mengharapkan akan mendapatkan akuntabilitas dan transparansi dalam proses manajemen organisasi, sehingga mendorong perusahaan untuk mencapai efisiensi dan efektifitas dalam memperbaiki kinerja organisasi.

Disamping itu, dengan peningkatan kinerja organisasi juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing UII dalam kancah persaingan industri pendidikan baik di dalam negeri maupun secara global", ujarnya.

Alasan lain yang mendorong UII untuk serius menggarap sistem IT mereka adalah ketidakmampuan sistem lama mereka dalam mengkover kebutuhan-kebutuhan organisasi. "Perkembangan UII membuat unit-unit di UII berkembang cepat, maka akurasi data dan informasi keuangan menjadi kebutuhan yang kritis dalam pengambilan keputusan. Manajemen membutuhkan informasi yang lebih akurat, real time, serta transparan untuk menyelesaikan persoalan unitnya", ujar Dekar Urumsah, Chief of Information

Systems Centre UII beralasan. Selain itu kelambatan pengambilan keputusan merupakan salah satu faktor penghambat yang disebabkan adanya keterbatasan data keuangan yang tidak real time. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut akhirnya UII memutuskan untuk menggunakan SAP All-in-One sebagai solusi IT

mereka menggantikan SIMKEU (Sistem Informasi Keuangan) yang sebelumnya dikembangkan secara internal. Dalam pengoperasiannya, SIMKEU ternyata tidak mampu menyajikan laporan keuangan yang sesuai standar akuntasi dengan cepat sehingga membutuhkan sumber daya tambahan yang pada akhirnya memerlukan biaya tambahan.

Berawal dari keikutsertaan di SAP University Alliance, UII dapat mengenal solusi SAP lebih dalam. Di lain sisi, sistem yang digunakan UII sebelumnya mengalami kegagalan. Oleh karena itu setelah jajaran manajemen UII mempelajari dan mengevaluasi solusi SAP, akhirnya UII memutuskan untuk mengimplementasikan SAP All-in-One. "Kegagalan sistem yang sebelumnya, membuat pihak manajemen menginginkan satu solusi yang tidak saja berfungsi sebagai pengganti piranti lunak akuntasi. Tetapi lebih menginginkan suatu solusi ERP yang mampu mengintegrasikan sistem-sistem yang telah terpasang pada unit-unit bisnis UII", tambah  Dekar Urumsah.

ERP Sebagai trend teknologi sistem informasi dewasa



Dari semua pengembangan teknologi sistem informasi dewasa ini, satu sistem informasi yang didesain untuk mendukung keseluruhan unit fungsional dari perusahaan adalah Enterprise Resource Planning atau ERP.

ERP adalah paket software yang memenuhi kebutuhan perusahaan dalam mengintegrasikan keseluruhan aktivitasnya, dari sudut pandang proses bisnis di dalam perusahaan atau organisasi tersebut.

Software ERP adalah salah satu sistem informasi yang tercanggih dan juga termahal yang bisa didapatkan pada awal abad 21 ini. Untuk dapat mengadopsi teknologi ERP, suatu perusahaan tidak jarang harus menyediakan dana hingga milyaran rupiah. Dana sebesar itu harus disediakan untuk investasi paket software ERP, hardware berupa server dan desktop, database dan operating system software, high performance network, hingga biaya konsultasi untuk implementasi. Meskipun dihalangi oleh biaya investasi yang besar, banyak perusahaan di dunia –termasuk Indonesia– seperti berlomba-lomba untuk mengadopsi system informasi ini. Hal ini karena paket software ERP yang diimplementasikan secara baik akan menghasilkan return terhadap investasi yang layak dan dalam waktu cepat.

Karena ERP menangani seluruh aktivitas dalam organisasi, ERP membawa budaya kerja baru dan integrasi dalam organisasi. ERP mengambil alih tugas rutin dari personel –dari tingkat operator hingga manajer fungsional– sehingga memberikan kesempatan kepada sumber daya manusia perusahaan untuk berkonsentrasi dalam penanganan masalah yang kritis dan berdampak jangka panjang. ERP juga membawa dampak cost efficiency yang signifikan dengan adanya integrasi dan monitoring yang berkelanjutan terhadap performance organisasi. Pendeknya, ERP bukan hanya suatu software semata, namun suatu solusi terhadap permasalahan informasi dalam organisasi.

Enterprise Resource Planning (ERP)

Enterprise Resource Planning (ERP) dapat didefinisikan sebagai software information system berbasis komputer yang dirancang untuk mengolah dan memanipulasi suatu transaksi di dalam organisasi dan menyediakan fasilitas perencanaan, produksi dan pelayanan konsumen yang real-time dan terintegrasi.

Keistimewaan ERP dibandingkan teknologi system informasi lainnya terletak pada sifatnya yang terintegrasi, sehingga ERP mampu mengatasi banyak permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan. Misalnya, manajemen material, masalah pengendalian mutu, produktivitas karyawan, pelayanan pelanggan, manajemen kas, masalah inventori, dan lain-lain. ERP system memberikan kepada organisasi penggunanya suatu model pengolahan transaksi yang terintegrasi dengan aktivitas di unit lain dalam organisasi, contohnya integrasi antara produksi dengan sumber daya manusia. Dengan mengimplementasikan proses bisnis standar perusahaan dan database tunggal (single database) yang mencakup keseluruhan aktivitas dan lokasi di dalam perusahaan, ERP mampu menyediakan integrasi di antara aktivitas dan lokasi tersebut.

Sebagai hasilnya, ERP system dapat mendorong ke arah kemampuan decision-making yang lebih baik dengan parameter yang terukur secara kuantitatif, seperti misalnya penurunan inventory level, pengurangan personel, percepatan pengolahan laporan keuangan, dan lain-lain.

Keunggulan ERP yang biasanya dijadikan alasan bagi perusahaan untuk mengimplementasikan ERP dalam system informasinya adalah :

- ERP mengitegrasikan aktivitas perusahaan Pemrosesan data di dalam ERP system terjadi secara cross-functional dengan data yang terhimpun dalam satu sistem sehingga menyebabkan hilangnya batas antar unit atau lokasi dalam organisasi.
-ERP memberikan kesempatan untuk mengadopsi best practice Paket software standard ERP terdiri dari ribuan atau bahkan lebih best practice dari proses bisnis yang dapat meningkatkan performance dan produktivitas perusahaan bila diimplementasikan
- ERP memberikan kemampuan standarisasi dalam organisasi Standarisasi yang dimaksud adalah penyamaan proses bisnis di lokasi-lokasi yang berbeda di dalam satu perusahaan untuk kepentingan efisiensi dan konsistensi image terhadap konsumen
- ERP menghindarkan terjadinya information asymmetry Karena ERP menggunakan single database, maka akan menghindarkan terjadinya monopoli informasi di suatu unit organisasi, meningkatkan kemampuan kontrol, meningkatkan kemampuan decision-making dan menghindarkan pekerjaan yang sia-sia dalam penyiapan informasi atau input data di lebih dari satu tempat
- ERP menyediakan informasi secara real-time dan on-line Dimungkinkan dengan terhubungnya semua end-user perusahaan dalam satu sistem informasi secara on-line
- ERP memberikan keleluasaan untuk mengakses data perencanaan dan controlling secara simultan Dengan penggunaan single database, semua user dalam organisasi dapat mengakses suatu data secara simultan, memberikan kemampuan perencanaan dan controlling yanglebih konsisten
- ERP memberikan fasilitas komunikasi dan kolaborasi di dalam satu perusahaan
- ERP memberikan kemampuan kepada user dari berbagai fungsi dan lokasi dalam organisasi untuk berkomunikasi dan kolaborasi dengan adanya proses yang saling berhubungan. Adanya proses yang standar juga mengurangi potensi konflik.
- ERP memberikan fasilitas komunikasi dan kolaborasi antar perusahaan

Trend bisnis modern saat ini adalah untuk mengintegrasikan database organisasi kepada organisasi partner untuk kepentingan procurement atau yang lain. Untuk mendukung keperluan tersebut, diperlukan single repository (data storage) bagi seluruh organisasi yang terlibat, dan kemampuan ini dimiliki oleh ERP.


Pariwisata berbasis TI (Sistem Informasi Manajemen Pariwisata)



Bahwa dunia pariwisata adalah menjadi salah satu bidang garapan pemerintah daerah dalam implementasi egovernment untuk mempublikasikan/ memasarkan) potensi wisata di daerah. Berbasis TI dalam hal ini berarti adanya suatu Sistem Informasi Manajemen yang berbasis pada pengolahan data elektronik.

Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat maka kebutuhan untuk berlibur meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan informasi tentang tujuan wisata, objek wisata yang menarik, sarana yang tersedia seperti transportasi untuk mencapai tujuan wisata, produk wisata yang diminati dan lain sebagainya. Untuk memperoleh informasi tersebut wisatawan sering mengalami kesulitan karena tidak mengetahui dimana dan pada siapa harus meminta informasi. Singkatnya kebutuhan informasi di bidang pariwisata meningkat dan perlu disiapkan dengan rapi dan terstruktur agar dapat diakses dengan mudah.

Selain kebutuhan wisatawan akan informasi yang lengkap, akurat dan mudah didapat, maka pihak lain yang juga membutuhkan data dan informasi tersebut adalah pihak pengelola industri pariwisata dan pemerintah sebagai pihak pengambil keputusan dan penentu kebijakan dibidang pariwisata. Namun penekanan kebutuhan data dan informasi bagi masing-masing pihak berbeda. Jika bagi wisatawan adalah untuk memudahkan mereka menentukan rencana perjalanan wisatanya sementara bagi industri pariwisata dan pemerintah adanya sistem informasi yang baik sangat membantu mereka untuk tujuan pengambilan keputusan. Suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) dapat membantu baik pemerintah maupun industri/ pelaku pariwisata.

Sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata maka tentunya ada keinginan besar untuk menata informasi data pariwisata sebaik-baiknya agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh dengan cepat, akurat dan dapat disebarluaskan dengan mudah pula. Ada berbagai cara untuk penataan informasi tersebut. Kalau jaman dulu informasi disebarluaskan dari mulut ke mulut, kemudian melalui radio, surat kabar, televisi dan media informasi lainnya maka sekarang dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi ada beberapa sarana baru yang lebih mempercepat penyebarluasan informasi.

Secara umum saat ini SIM merupakan kebutuhan setiap organisasi. Hal ini disebabkan karena data yang disimpan suatu organisasi harus selalu diperbaharui dan ditambah, sehingga keberadaannya dapat membantu memberikan keputusan dengan cepat. Untuk bidang pariwisata maka SIM dapat digunakan untuk mengelola data yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan, industri pariwisata maupun pemerintah. Data pariwisata yang banyak dan selalu bertambah membutuhkan pengelolaan yang tepat. SIM punya kemampuan untuk membantu mengambil keputusan, dan juga menyediakan informasi bagi pengguna data dan informasi pariwisata. Keberadaan sistem informasi manajemen yang terintegrasi dengan baik, disertai dengan dukungan sistem komputer, akan sangat membantu pengelolaan data pariwisata.

Disamping kesiapan dari sistem pengelola data maka orang yang membangun struktur sistem informasi ini harus benar-benar mengerti kebutuhan pengguna data tersebut, karena informasi pariwisata memiliki karakteristik data yang sangat beragam seperti objek dan daya tarik, data hotel, data sarana transportasi, dan data-data fasilitas lain, hingga ke data statistik seperti jumlah wisatawan dan pemandu wisatanya, perlu dikelola secara terintegrasi. Data-data ini juga sangat dinamis, sehingga kompleks dalam pemilahannya, serta harus diperhatikan masalah keakuratan atau kebenaran datanya. Kegunaan dari setiap data juga harus diperhatikan berdasarkan segmen pasar penggunanya.

Berikut data-data yang umumnya dibutuhkan dalam Perencanaan Pariwisata :

1. Data Rencana Pengembangan

2. Data Wisatawan

3. Data Industri Pariwisata

4. Data Destinasi Pariwisata

5. Analisis

Pemanfaatan internet di dunia pariwisata dalam bentuk Website / Portal sangat beragam mulai dari sekadar pemberian layanan informasi dan promosi sampai layanan yang lebih kompleks misalnya : reservasi online (hotel, paket wisata, transportasi dll), sistem pembayaran online, pengelolaan data base pariwisata daerah dan proses interaksi dan transaksi lainnya.

Beberapa hal dari pemanfaatan internet untuk pariwisata antara lain :

Komunikasi tidak mengenal batas ruang dan waktu , misal : orang Amerika yang ingin mencari informasi obyek wisata dan akomodasi di suatu daerah tertentu di Indonesia.

Akses yang mudah karena dapat dilakukan dari rumah

Menyediakan informasi sedetail mungkin : harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date.

Jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia dan murah.

Melawan ”bad publicity” tentang Indonesia misal : Indonesia dianggap tempat teroros dan kerusuhan sehingga orang takut berkunjung.

Menambah kredibilitas suatu organisasi karena memiliki e-mail dan website.

Kehadiran internet terutama tersedianya website/ portal pariwisata yang handal, lengkap dan interaktif tentu sangat mendukung promosi tujuan wisata yang ada di suatu daerah, sebagai contoh : sebuah website pariwisata milik suatu pemda memuat suatu promosi perjalanan wisata ke daerah yang meliputi :

Lokasi obyek wisata (dimana, apa saja yang bisa dilihat)

Waktu yang dibutuhkan

Perkiraan biaya

Pendukung yang terkait (hotel, restoran, toko souvenir, sarana hiburan, atraksi wisata)

Saran souvenir yang perlu dibeli

Budaya lokal (adat istiadat, bahasa, kesenian dll)

Teknologi yang tersedia harus dipilih dengan tepat, terutama menyangkut jenis layanan wisata yang ditampilkan, untuk sekadar publikasi, maka cukuplah sebuah website yang memuat info pariwisata di sebuah daerah, berupa gambar/ foto-foto dan narasi serta informasi yang diberikan masih bersifat satu arah, hanya berisi penjelasan supaya masyarakatmengetahui (web prsence).

Sedangkan untuk layanan yang lebih kompleks dan rumit diperlukan teknoogi yang lebih “advance” misalnya : diperlukan adanya website yang interaktif dengan animasi flash, gambar dan link yang lengkap, sehingga calon customer bisa meminta suatu penjelasan secara lebih detail. Perlu ditambah pula menu semacam, jadwal trayek atau peta jalan interaktif sehingga memudahkan calon customer untuk bisa sampai di suatu tempat, perlu dipikirkan pula menu transaksi yang harus ada misalnya : reservasi hotel, nilai tukar mata uang, kamus, waktu/ jam, pembayaran online, layanan sms interaktif, interaktif voice response/ call center, dan lain-lain.

Supaya suatu website diminati oleh calon customer maka diperlukan beberapa hal sebagai berikut :

Informasi harus di up date secara berkala (events, info baru, berita, artikel, gambar, film, animasi, dll)

Suatu website juga harus responsif terhadap request dan pertanyaan (banyak yang tidak menjawab email) serta tanggap terhadap keiningan pengunjung dan komunikatif (memahami alasan mengapa audiens web mendarat di suatu website).

Sesuaikan dengan target pembaca/ pengunjung dengancara penyampaian informasi (calon wisatawan asing membutuhkan informasi dalam bahasa Inggris/ atau bahasa asing lainnya dan dalam bahasa Indonesia).

Kendala

Beberapa kendala yang sering dihadapi oleh suatu Dinas Pariwisata di daerah untuk mengembangkan egovernment di bidang pariwisata adalah sebagai berikut:

Kesulitan utama secara teknis ada pada ketersediaan akses internet, serta peralatan komputer dan jaringan yang kurang memadai.

Secara non teknis kesulitan ada pada ketersediaan data (content) dari Dinas Pariwisata sendiri yang mana sangat membutuhkan kerjasama dan keterbukaan dari setiap bidang dan seksi yang ada, sehingga data dapat terintegrasi dengan baik.

Kemampuan SDM yang relatif masih rata-rata dan belum sampai pada tingkat yang mahir khususnya penguasaan jarirngan komputer dan internet.

Pariwisata berbasis TI belum menjadi ”minded” dari pimpinan daerah yang dimana pada beberapa daerah, Dinas Pariwisata masih ”dianggap” dinas yang ”kering” dan ”dihindari” oleh para pejabat

Egovernment merupakan aplikasi pemacu untuk memasarkan tujuan dan potensi wisata di daerah, zaman sedang berubah dan suka atau tidak suka semua harus berubah termasuk sektor pariwisata daerah.

Bepergian Mudah dengan iTravel



Cebu - ABN Amro Indonesia meluncurkan kartu kredit iTravel Card untuk menggaet segmen pelancong yang sering bepergian keluar negeri.

Menurut Head of Consumer Finance ABN Amro Indonesia Riko Abdurrahman segmen ini merupakan segmen yang sangat potensial bagi bisnis kartu kredit karena pertumbuhan pelancong di Indonesia yang mencapai 5 persen per tahun.

"Saat ini ada 2,6 juta orang Indonesia yang sering traveling ke luar negeri, pertumbuhannya sekitar 5 persen pertahun. Dari jumlah itu 54,3 persennya menggunakan kartu kredit untuk bepergian dan membayar," ujarnya saat peluncuran iTravel Card di Cebu, Filipina seperti dilaporkan reporter detikFinance, Ardian Wibisono, Minggu (16/9/2007).

Meski tidak melakukan co-branding seperti umumnya kartu kredit yang khusus untuk travel card, Riko yakin iTravel Card akan diminati.

Menurutnya keunggulan iTravel Card adalah langsung memberikan diskon 5 persen atas semua transaksi dengan travel agent dan transaksi di luar negeri serta transaksi di pompa bensin dimana saja.

"iTravel Card tidak memakai sistem poin reward sehingga pemegang kartu bisa menghitung secara pasti benefit yang didapat. Biasanya benefit dari poin reward tidak dikomunikasikan secara jelas dan pemegang kartu harus menunggu lama untuk mendapatkan benefit-nya," kata Riko.

Riko juga menambahkan ABN Amro sengaja tidak melakukan kerjasama dengan perusahaan lain (co-branding) karena lebih menguntungkan.




"Kami sudah mengkaji, sampai saat ini co branding masih belum sukses di bank-bank lain,"tambahnya.

Dengan peluncuran kartu kredit ini, ABN Amro menargetkan pertumbuhan nasabah kartu kreditnya meningkat dua kali lipat di akhir 2008. Tahun ini nasabah kartu kredit ABN Amro sekitar 200 ribu kartu.

ABN Amro optimistis dapat melampaui target itu karena penetrasi kartu kredit di Indonesia baru 3,9 persen dari total populasi. Dari sekitar 252 juta penduduk Indonesia baru 9 juta kartu kredit yang diterbitkan.

SISTEM INFORMASI AKADEMIK (SIAK)



Profil SIAK

Semakin meningkatnya tuntutan masyarakat pada lembaga-lembaga pendidikan untuk dapat memberikan mutu yang prima disegala aspek menyebabkan penerapan sebuah sistem informasi yang didukung teknologi informasi yang sesuai adalah mutlak dilakukan. Dengan penerapan sistem informasi diharapkan sebuah lembaga pendidikan dalam segala kegiatannya dapat menciptakan pelayanan kepada masyarakat, pemerintah, dunia industri, dan intern mereka dengan lebih cepat, lebih baik, dan tentunya lebih murah.

Sistem Informasi Akademik (SIAK) merupakan sebuah aplikasi yang mengintegrasikan seluruh proses inti sebuah bisnis pendidikan ke dalam sebuah sistem informasi yang didukung oleh teknologi terkini. Dengan penerapan SIAK akan mempengaruhi mutu layanan secara keseluruhan, yaitu layanan yang berhubungan dengan pihak-pihak di luar lembaga pendidikan (Front Office) dan satu lagi tentunya layanan yang berhubungan dengan intern lembaga pendidikan itu sendiri (Back Office).

Aplikasi Sistem Informasi Akademik merupakan sebuah aplikasinya menggunakan web sebagai antar muka penggunanya. Diharapkan dengan ini maka aplikasi ini dapat diakses kapan saja, di mana saja, implementasinya relatif murah dan tentunya mudah digunakan.

Keuntungan Aplikasi SIAK

Meningkatkan Kinerja : SIAK mampu memberikan informasi yang realtime dengan waktu respon interaktif yang cepat untuk kebutuhan banyak user

Mudah Disesuaikan: Modul SIAK yang ada dapat di sesuaikan dengan kebutuhan dan persyaratan yang beragam dari masing-masing perguruan tinggi

Arsitektur Terbuka (Modular & Scalable): Aplikasi SIAK dibangun dengan Arsitektur Terbuka sehingga memungkinkan untuk peningkatan fleksibilitas dan perkembangan teknologi kedepan.

Integrasi Mudah: Aplikasi SIAK yang ada mengintegrasikan seluruh proses bisnis utama yang ada di perguruan tinggi yang dapat di akses dari seluruh titik yang ada di dalam (intranet) dan dari luar (internet).

Penerapan dan Pemiliharaan Relatif Mudah: Aplikasi SIAK tidak menerapkan skema lisensi sehingga dapat digunakan oleh banyak user. Karena sifatnya adalah aplikasi client-server maka tidak perlu ada aplikasi yang harus diinstall di PC user, hal ini sangat memudahkan pemeliharaan dan sangat minimal terkena resiko crash atau terkena virus.

Aman dan Handal: Aplikasi SIAK mengunakan keamanan berlapis, mulai dari proteksi di sistem operasi server, database dan aplikasi itu sendiri. Setiap user yang akan mengakses suatu modul SIAK di berikan user login dan password sesuai dengan kewenangan masing - masing.

Penerapan E-Goverment



Besok di Papua(tempat saya berada) akan diadakan Pilkada, kebetulan pula didepan tempat saya akan dijadikan TPS. Karena ter-”GolPut”-kan, berarti besok saya bakal santai. Jadi marilah saya menghadiahkan sebuah ulasan iseng-iseng untuk pemerintah kita di lembaga atau di daerah manapun.

Belum lama ini saya dihadapkan pada sebuah tugas untuk merancang sistem E-Goverment untuk sebuah kabupaten baru di Papua. Tentunya untuk menyusun hal-hal seperti ini, kita harus berpulang ke badan yang memang mengurusi hal ini, yaitu Kementrian Komunikasi dan Informasi.

Dari pengamatan saya ke beberapa daerah dan berita-berita yang beredar, kita semua tahu kalau pemerintah daerah ataupun lembaga cenderung menyerahkan ini kepada pemborong/kontraktor. –sekali lagi ini kecenderungan, tidak semua begitu. Dan, seandainya mereka mau mencari tahu peranan Kominfo mengenai hal ini tentunya mereka akan mulai dengan membaca “Panduan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan E-Goverment Lembaga” versi 1.0 yang merupakan terusan/turunan dari Inpress No.3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Goverment.

Saya akan kutipkan beberapa point yang menarik dari Panduan tersebut, untuk saya ulas.

Kutipan dari Sambutan Menteri Komunikasi dan Informasi:

Masyarakat, sektor swasta dan pemerintah mengharapkan pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (telematika) di Indonesia menjadi lebih terarah dan terintegrasi serta tidak tumpang tindih pengembangannya mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pemerintah pusat. Oleh karenanya pemerintah menyusun pula konsep sistem informasi nasional sebagai acuan/panduan bagi penyusunan national e-Strategy di Indonesia yang dilengkapi dengan konsep pelaksanaan secara makro melalui program e-Indonesia, yang didalamnya termasuk pembangunan e-Government.

Pengembangan e-Government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan pemerintahan yang berbasis elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Pemerintah telah mengeluarkan Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government ( e-Government Development Framework) melalui INPRES No. 3 Tahun 2003 yang merupakan payung bagi seluruh kebijakan detail teknis di bidang e-Government. Agar kebijakan pengembangan e-Government dapat dilaksanakan secara sistematik dan terpadu, maka masih diperlukan peraturan, standarisasi dan panduan yang konsisten dan saling mendukung.

Dari dua paragraph dalam Sambutan-nya dapat ditangkap adanya sinyalment bahwa ada sebuah platform (nampaknya software atau protokol) yang paling tidak dapat berintergrasi dari pusat ke daerah dan sebaliknya, dimana dan bagaimana itu semua disederhanakan dalam istilah “program e-Indonesia”. Apa itu? Ada baiknya kita baca dahulu Panduan ini lebih lanjut.

Jenis layanan yang diberikan dan jenis informasi yang dibutuhkan, menentukan prioritas pengembangan e-government suatu lembaga pemerintah, menyangkut hubungan Government to Government (G2G), Government to Business (G2B) dan Government to Citizen (G2C).

Untuk G2C dan G2B, mungkin sama seperti kebanyakan dari kita akan mudah menujuk open-source untuk keperluan masing-masing. Ada Helpdesk atau CRM type lainnya, ada B2B software yang dapat dipakai walaupun biasanya Goverment adalah regulator dan watching body, dan lain-lain. Namun lain halnya dengan G2G kira-kira ini apa yah? Mungkin cuman skeptis saja kalau saya melihat G2G itu lebih ke inteligent(mata-mata), sehingga sulit bagi saya melihat aplikasi G2G, selain membaca tabel rekayasa masing-masing, dan index yang jauh dari realtitas.

Dari Penerapan E-Goverment lembaga, halaman 11 s/d 13, yang akan saya pisah dalam 2 bagian dengan ulasan.

Tingkat Persiapan

pembuatan situs web pemerintah (lihat buku Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah) di setiap lembaga;

pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia menuju penerapan e-government;

penyediaan sarana akses publik antara lain dalam bentuk Multipurpose Community Center (MCC), Warung dan kios Internet, dan lain-lain;

sosialisasi keberadaan layanan informasi elektronik, baik untuk publik maupun penggunaan internal;

pengembangan motivasi kepemimpinan (e-leadership) dan kesadaran akan pentingnya manfaat e-government (awareness building);

penyiapan peraturan pendukung.

Tingkat Pematangan

pembuatan situs informasi layanan publik interaktif, antara lain dengan menambahkan fasilitas mesin pencari (search engine), fasilitas tanya jawab dan lain-lain;

pembuatan hubungan dengan situs informasi lembaga lainnya (hyperlink).

Dari sudut pandang saya, kedua tingkatan ini nampaknya terbalik. Utamanya pokok sosialisasi, sarana akses dengan layanan interaktif –publik serta hyperlink yang menurut saya justru seharusnya diletakkan sebelum pokok pendidikan, dan berdampingan dengan situs web pemerintah. Karena ketika kita berbicara soal Pajak Online misalnya, masyarakat sudah menduga adanya “port” untuk mengurus pajak dan berinteraksi dengan kantor perpajakan. Bukan kemudian lalu ada “warnet” di Kantor Pajak dan orang-orangnya ngalor-ngidul dulu di Internet.

Khusus pokok sosialisasi. Pertanyaannya adalah; apa sih yang membuat penguna kembali dan kembali lagi ke sebuah situs? Betullah bila tahap ini terbalik. Karena sudah di-teken, menurut saya Panduan ini perlu di-revisi bila G2C dan G2B nya mau ditengahkan. Jadi seharusnya difokuskan dulu ke aplikasinya, katanya ada program e-Indonesia kan?

Tingkat Pemantapan

Penyediaan fasilitas transaksi secara elektronik antara lain dengan menambahkan fasilitas penyerahan formulir, fasilitas pembayaran dan lain-lain;

penyatuan penggunaan aplikasi dan data dengan lembaga lain (interoperabilitas).

Tingkat Pemanfaatan

pembuatan berbagai aplikasi untuk pelayanan G2G (Government to Government), G2B(Government to Bussines) dan G2C(Government to Community) yang terintegrasi;

pengembangan proses layanan e-Government yang efektif dan efisien;

penyempurnaan menuju kualitas layanan terbaik ( best practice).

Untuk sampai tingkat Mantap(karena disebut Pemantapan), maka perlu lebih banyak langkah yang detail. Bila tidak ini hanya mimpi untuk memantapkan. Contoh sederhananya: adalah standariasai formulir. Mungkin perlu disebut juga standard ISO yang Indonesia akan gunakan dan diuji sertifikasinya. Fasilitas pembayaran jelas-jelas membutuhkan pemaparan yang lebih baik, dan kata “dan lain-lain” koq lebih bernada kebuntuan ketimbang perspektif para regulator(mungkin lebih tepat penyusun, maaf loh yah, cuman berpendapat saja).

Lebih cocok lagi sedari awal bila panduan ini mengeluarkan bunyi yang pasti; bahwa kita akan pakai software ini atau itu. Operating System ini atau itu. Sehingga Tahap Mantap nya lebih mudah dibunyikan bila menemukan manusia yang tepat.

Tingkat Pemanfaatan, ini adalah tingkatan yang paling rancu dari semua tingkatan, karena sudah seharusnya sedari awal e-goverment itu memiliki manfaat. Tidak perlulah saya harus menyebutkan nilai investasinya dan inverstasi waktunya bila pemanfaatan diletakkan dibelakang.

Bila anda sering membuat aplikasi, anda tentu tahu bahkan pemanfaatan(digunakan) adalah salah satu nadi penyempurnaan.

Selain langkah-langkah penerapan diatas, Panduan juga menyebutkan banyak kata E-Leadership, dan kesadaran atas manfaat dan kegunaan E-Goverment sebagai pensiapan Supra-Structure tersebar di seluruh halaman, dan itu juga tentunya seharusnya berarti Infra-Structure. Sekedar mengingatkan bahwa pulau-pulau di Indonesia belumlah mengunakan jaringan under-sea cabel, dan fiber optic masih merupakan donggeng di daerah; kita akan sadar bahwa penerapan ini akan jadi isapan jempol semata.

Pemasukan Data Dalam Sistem Informasi Geografi (SIG)



Seperti yang telah kita ketahui bersama, ada 4 proses penting dalam Sistem Informasi Geografi yaitu pemasukan data, manajemen data, manipulasi/analisis data dan keluaran data. Keempat proses tersebut harus dilakukan tahap demi tahap untuk menghasilkan output SIG yang baik. Proses pemasukkan data bisa melibatkan banyak hal baik hardware maupun softwarenya, begitu juga dengan proses manajemen data serta output datanya. Akan tetapi untuk proses analisis dan manipulasi data, dalam hal ini gabungan data atribut dan data spasial maka hanya program-program GIS yang bisa melakukannya. Software-software SIG juga kadang diseting untuk bisa melakukan keempat proses-proses tersebut, misalnya software ArcView GIS.

Untuk seseorang yang baru mengetahui SIG, proses pemasukkan data bisanya merupakan proses yang sangat ruwet, kadang proses pemasukkan data dipelajari lebih belakangan dibandingkan dengan proses-proses yang lainnya. Karena memang saat ini dah banyak sekali data-data peta digital (bentuk vektor dan grid) yang beredar, sehingga untuk menghasilkan otuput GIS yang baik tidak perlu lagi melakukan proses pemasukkan data (merubah peta hardcopy menjadi softcopy).

Akan tetapi proses ini sangatlah penting. Karena tidak akan ada peta digital seandainya tidak ada proses pemasukkan data. Menurut Lukman (1993) pemasukan data merupakan proses pemasukan data pada komputer dari peta (peta topografi dan peta tematik), data statistik, data hasil analisis penginderaan jauh, data hasil pengolahan citra digital penginderaan jauh, dan lain-lain. Data-data spasial dan atribut baik dalam bentuk analog maupun data digital tersebut dikonversikan kedalam format yang diminta oleh perangkat lunak sehingga terbentuk basisdata (database). Basisdata adalah pengorganisasian data yang tidak berlebihan dalam komputer sehingga dapat dilakukan pengembangan, pembaharuan, pemanggilan, dan dapat digunakan secara bersama oleh pengguna (Anon, 2003).

Menurut Puntodewo, dkk (2003) ada beberapa macam sumber data spasial yang dapat digunakan dalam GIS diantaranya yaitu:

1. Peta analog

Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan seperti peta rupa bumi yang diterbitkan Bakosurtanal. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angina dsb walaupun pada akhirnya koordinatnya harus dikoreksi kedalam koordinat digital. Peta analog harus dikonversikan menjadi peta digital dengan berbagai cara misalnya digitasi.

Karsidi (1996) dalam geocities.com/yaslinus (2007), mengatakan bahwa untuk mengubah data peta menjadi data sistem informasi geografi digital, maka ada dua proses yang dapat dilakukan yaitu melalui digitasi garis dan penyiaman/penyapuan (scanning). Dengan digitasi maka obyek–obyek di peta digambarkan ulang dalam bentuk digital menggunakan peralatan meja digitasi atau bantuan mouse dan monitor. Meja digitasi adalah alat perekam koordinat yang akan mencatat posisi dari kursor yang dipakai untuk menggambar ulang obyek peta. Dilain pihak dengan teknik scanning/penyiaman, maka obyek–obyek peta direkam ulang dengan alat optik (semacam mesin foto copy) yang kemudian akan mengubah data rekaman gambar ke dalam format raster/image yang dalam proses digitasinya menggunakan teknik On Screen Digitazier.

Digitasi adalah pengambilan data dengan cara menelusuri peta yang telah ada dengan menggunakan meja gambar yang disebut Digitizer Tablet atau mengikuti gambar hasil scanner/penyiaman di layar monitor yang disebut dengan On Screen Digitizer.

2. Data dari sistem Penginderaan Jauh

Data Pengindraan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaannya secara berkala. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing, kita bisa menerima berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster seperti citra satelit dan foto udara.

Citra penginderaan jauh yang berupa foto udara atau dapat diinterpretasi terlebih dahulu sebelum dikonversi kedalam bentuk digital. Sedangkan citra yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital dapat langsung digunakan setelah diadakan koreksi seperlunya. Lebih lanjut dinyatakan ketiga sumber tersebut saling mendukung satu terhadap yang lain. Data lapangan dapat digunakan untuk membuat peta fisik, sedangkan data penginderaan jauh juga memerlukan data lapangan untuk lebih memastikan kebenaran data tersebut. Jadi ketiga sumber data saling berkaitan, melengkapi dan mendukung, sehingga tidak boleh ada yang terabaikan (geocities.com/yaslinus).

3. Data hasil pengukuran lapangan.

Contoh data hasil pengukuran lapang adalah data batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb., yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut.

4. Data GPS.

Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi seiring dengan pencabutan Selective Availability (SA) oleh Amerika Serikat (AS). Sebelum SA di cabut oleh AS keakuratan sebuah GPS hanya 100m dari seharusnya dan saat ini pada umumnya keakuratan sebuah GPS adalah 10m. data posisi GPS dapat digunakan sebagai data dasar koordinat bumi, selain itu hasil traning area sebuah GPS dapat juga digunakan sebagai data penunjang dalam pembuatan peta.

Health Informatics - Surveilans dan Standar Data



Suatu sistem surveilans kesehatan masyarakat (Public Health Surveillance System) di masa kini banyak didukung oleh perkembangan teknologi elektronik. Seharusnya arus data yang dikumpulkan pun menjadi lebih cepat / real-time, mampu memonitor perkembangan / penyebaran kejadian kesehatan / penyakit (tren) di masyarakat serta bermanfaat bagi para pengambil kebijakan bidang kesehatan untuk melakukan tindakan yang tepat dan segera. Namun, nampaknya masalah standardisasi data masih akan menjadi topik hangat pada perkembangan sistem surveilans di beberapa negara termasuk Indonesia.

The National Electronic Disease Surveillance System (NEDSS) merupakan salah satu organisasi yang mengembangkan proses standardisasi data kesehatan mulai dari pengumpulan data, manajemen, pertukaran / pengiriman, analisis, akses dan diseminasi. Berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi di negara kita.

Pengumpulan data

Suatu masalah kesehatan biasanya ditemukan dan dilaporkan oleh penyedia pelayanan kesehatan seperti: puskesmas, dokter swasta, bidan, balai pengobatan, laboratorium dan rumah sakit. Isu penting yang ada adalah apakah format laporan yang digunakan sudah memenuhi standar yang ada secara nasional? Apakah definisi kasus tiap kejadian penyakit sudah terjabarkan secara jelas? Diperlukan juga format standar yang memudahkan pertukaran data secara elektronik nantinya. Untuk kemudahan dan kecepatannya, data bisa dikirimkan dalam bentuk kertas, menggunakan sms, telepon, faksimil, email, disket, flash-disk atau bahkan PDA dan beberapa daerah sudah memiliki wide area network maupun sistem informasi berbasis web. Data dikirimkan ke level pemerintahan lokal / dinkes kabupaten / kota, dinkes propinsi dan seterusnya hingga ke Depkes pusat. Pengumpulan data sebaiknya juga bersifat aktif, jangan hanya pasif.

Manajemen data

Untuk mencegah multiplikasi data, diperlukan suatu sistem pendataan identitas penduduk yang baik dan unik. Nantinya juga dibutuhkan suatu software register database yang mampu memfilter data ganda tersebut. Standar arsitektur data sebaiknya ditetapkan menggunakan format program tertentu seperti .doc dari Microsoft Word atau .odt (OpenDocument Text) dari OpenOffice.org 2.0 yang gratis, atau XML (eXtensible Markup Language) untuk memudahkan petukaran data elektronik.

Pertukaran / pengiriman data

Kerahasiaan data adalah isu penting disini, dimana pengiriman informasi menjadi sangat rawan dengan alam internet yang terbuka. Untuk mengatasinya dapat dengan menerapkan area network untuk lingkup tertentu atau menggunakan jalur internet terenkripsi.

Analisis data

Perubahan tren kejadian kesehatan tertentu dengan bantuan metode statistik serta dukungan software database dan pemetaan (misalnya EpiInfo) akan membantu analisis dan penyajian data nantinya.

Akses dan diseminasi data

Selain bermanfaat bagi pengambil kebijakan, hasil analisis data disimpan dalam database masing-masing level pemerintahan dan dapat digunakan untuk promosi kesehatan masyarakat melalui jalur internet maupun sms interaktif sesuai kebutuhan masyarakat.

Untuk memudahkan pengolahan data dari berbagai sumber dan berbagai macam jenis data menjadi informasi yang berguna bagi kebijakan kesehatan selanjutnya, diperlukan suatu standar tertentu mengenai format laporan, definisi kasus, software pengolah data serta jalur internet yang aman.

Pengembangan Sistem Informasi Spasial Database Iklim Nasional



Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap iklim semakin tinggi maka ketersediaan data iklim baik secara global, regional, maupun lokal sangat diperlukan. Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi sebagai salah satu institusi di bawah Departemen Pertanian memiliki mandat untuk mengembangkan database sumberdaya iklim untuk kebutuhan pertanian nasional.

Permasalahan utama yang dihadapi dalam proses pengembangan database iklim ini terutama berkaitan dengan format dan struktur data yang belum standar. Akibatnya data tersebut tidak mudah diupdate dan diakses.

Permasalahan tersebut di atas menjadi masukan utama di dalam penelitian Pengembangan Sistem Informasi Spasial Database Iklim Nasional. Sistem tersebut menggabungkan data tabular (data iklim, infomasi stasiun iklim) dan spasial (peta administrasi) dengan menggunakan teknologi pemrograman yang dapat mendisain sistem database menurut kebutuhan pengguna misalnya: (a) menampilkan data dan informasi iklim secara cepat berdasarkan pilihan jenis parameter, periode waktu, dan lokasi stasiun yang diinginkan, (b) menampilkan distribusi stasiun pengamat iklim/curah hujan, (c) mengolah data iklim ke beberapa satuan waktu seperti data dasarian, bulanan, dan tahunan, dan (d) menampilkan hasil olahan tersebut dalam beberapa kemasan baik secara display di monitor komputer secara tabular ataupun histogram, printout, dan file.

Proses penyusunan sistem database iklim nasional meliputi dua tahapan utama yaitu: Pengembangan prototipe sistem database iklim nasional, dan Pengembangan database iklim Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kegiatan diawali dengan penyiapan data (spasial, tabular) yang diperoleh dari Puslitbangtanak maupun dari instansi terkait seperti BMG dan Bakosurtanal.

Parameter iklim adalah parameter yang menggambarkan kondisi iklim, seperti curah hujan, temperatur, kelembaban, kecepatan angin, evapotranspirasi, dan radiasi matahari. Kegiatan diawali dengan inventarisasi data seperti:

Peta digital seluruh Indonesia lengkap dengan batas administrasi sampai level kecamatan. Peta digital ini dalam format LL (Latitude Longitude) dan untuk keperluan pengembangan sistem database sedang ditransfer ke format UTM. Data iklim/curah hujan manual yang berasal dari instansi terkait seperti Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Dinas Pertanian, Kimpraswil, Badan Litbang Pertanian, dan lain sebagainya.

Data iklim/curah hujan digital yang berasal dari stasiun otomatis milik Puslitbangtanak terdiri atas 75 stasiun iklim dan 4 stasiun hujan.

Pengembangan sistim database dan informasi sumberdaya iklim pada prinsipnya memadukan berbagai jenis data seperti data spasial ataupun tabular. Semua data itu diklasifikasikan berdasarkan karakteristik objek atau berdasarkan bentuk penyajian, yaitu: (1) file poligon/satuan lahan (batas adminsitrasi), (2) file garis (sungai dan jalan), (3) file titik (lokasi staisun iklim), dan (4) file gambar ( legenda dan keterangan lainnya).

Keempat jenis file tersebut merupakan layer dengan tema yang berbeda dan dapat dioverlaykan seluruhnya atau beberapa layer saja sesuai kebutuhan. Setiap layer memiliki informasi yang terintegrasi dengan data tabular yang berupa angka (numeric data) seperti data iklim, nama provinsi dan lokasi stasiun.

Selanjutnya data yang sudah diklasifikasikan diproses dan ditampilkan dalam beberapa kemasan (display, printout, dan file textual). Struktur data yang dihasilkan dari bagian ini menjadi dasar dalam pengembangan analisis data iklim untuk menghasilkan informasi sumberdaya iklim yang lebih akurat, reliability, dan cepat.

Kesalahan pada salah satu bagian akan mengakibatkan kesalahan pada keluaran informasi yang diperlukan. Oleh karena itu sistim database ini harus baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, agar Balitklimat sebagai satu-satunya institusi di Lingkup Badan Litbang Pertanian yang bertanggungjawab dengan database iklim pertanian mampu memberikan informasi iklim yang bukan saja dapat dipercaya kebenarannya tetapi juga mampu memberikan informasi secara rutin, terbaru dan kontinu. Untuk mengetahui informasi jumlah stasiun dibuat menu khusus seperti Gambar.

Penelitian selanjutnya akan difokuskan untuk analisis agroklimat dan hidrologi dengan menggunakan input dari sistem database:

Estimasi evapotranspirasi.

Perhitungan neraca air secara spasial berbagai jenis komoditas pertanian.

Trend perubahan iklim antar tempat dan waktu.

prediksi curah hujan dengan menggunakan berbagai pendekatan seperti Kalman Filter. dan Box Jenkins. Zonasi parameter iklim. Link sumberdaya iklim dengan sumberdaya tanah ataupun informasi pertanian lainnya. serta analisis lain yang berkaitan dengan informasi sumberdaya iklim. Kehandalan sistem database sumberdaya iklim sangat tergantung pada aspek: ketersediaan data iklim maupun data spasial penunjang, sumberdaya manusia, dan perangkat lunak dan keras. Oleh karena itu disarankan pengembangan ketiga aspek ini harus mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu dan pengetahuan. serta kebutuhan Balitklimat di masa datang.